Padahal Jembatan Aji Tulur Jejangkat ( ATJ) telah menghabiskan anggaran sekitar Rp 300 miliar namun tidak pernah dilanjutkan sejak bergantinya pemimpin daerah dengan berbagai alasan.
Jembatan Aji Tulur Jejangkat ( ATJ) yang sejatinya dibangun untuk menghubungkan Kecamatan Melak dengan Kecamatan Mook Manaar Bulatn ( MMB) saat ini hanya menyisakan berdirinya dua pilar raksasa yang belum selesai dibangun.
Pembangunan proyek jembatan ATJ di Kutai Barat ini mulai dikerjakan sejak 2012. Namun sayangnya pada 2015 pengerjaan dari mega proyek jembatan ini tidak dilanjutkan. Hingga akhir 2016, terjadilah putus kontrak pada PT Waskita Karya (Persero) Tbk untuk mengerjakan jembatan ATJ.
Terhentinya mega proyek ini didasari seribu satu macam alasan, mulai dari alasan hukum, desain jembatan terlalu rendah, tiang bentangan kabel atau pylon yang miring, hingga dokumen perencanaan yang hilang dan masalah administrasi.
Jika demikian lalu siapa yang harus bertanggung jawab atas mangkraknya jembatan ATJ tersebut?
Menurut Bartolomeus Iku yang kala itu menjabat Wakil Ketua DPRD Kubar, tidak hanya Ismail Thomas yang menjabat bupati saat itu bertanggung jawab, tetapi juga FX Yapan yang menjabat bupati selanjutnya (saat itu menjadi ketua DPRD) serta dirinya dan Zainuddin Thaib yang juga wakil ketua DPRD.
Semua pihak bertanggung jawab karena menandatangani Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tahun 2011, termasuk anggaran untuk proyek tersebut.
"Jadi bukan hanya pak Thomas, saya juga bertanggung jawab. Jadi kalau itu tidak selesai menjadi tanggung jawab kami semua sebagai pimpinan daerah waktu itu yang menandatangani APBD 2011," kata Iku beberapa waktu lalu.
Menurut Iku sebenarnya tidak ada kesalahan di situ, sebab berdasarkan hasil kajian dari ITS itu layak untuk diselesaikan, dilanjutkan pembangunannya.
Namun, Bupati FX Yapan yang menggantikan Ismail Thomas sejak April 2016, justru bertanya mengapa proyek itu bisa mangkrak. Padahal aturannya harus selesai di akhir masa jabatan bupati.
Dia mengaku, telah berusaha mencari jalan keluar untuk melanjutkan pembangunan jembatan tersebut, namun semua dokumen perencanaan awal proyek itu hilang.
Puncaknya saat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) datang langsung ke Kubar pada 2 Juni 2022 silam. Saat itu KPK juga meminta dokumen proyek-proyek mangkrak, namun pulang dengan tangan kosong.
Kelanjutan pembangunan ATJ nampaknya sudah sirna.Meskipun investasi yang sudah terserap untuk membangun jembatan melintasi Sungai Mahakam ini nilainya tidak sedikit yakni mencapai Rp 300 miliar.
Namun, harapan muncul saat kunjungan Presiden Joko Widodo ke Kutai Barat pada November 2023. Bupati FX Yapan bahkan meminta langsung bantuan membangun jembatan baru ke Presiden.
"Kami mohon dengan segala hormat bapak presiden kiranya berkenan membantu atau cari solusi. Ada jembatan Aji Tulur Jejangkat. Jembatan ini sangat kami butuhkan. Jadi jembatan ini bukan kepentingan, tetapi kebutuhan,” kata Yapan di hadapan Presiden Jokowi di Alun-alun Itho pada 3/11/2023 lalu.
Mendapat lampu hijau dari Presiden Jokowi, Pemkab Kubar bergerak cepat dengan membuat master plan dan perencanaan jembatan baru.
Mendukung rencana ini Pemkab Kubar telah melakukan pertemuan dengan balai besar pelaksanaan jalan nasional (BBPJN) di Balikpapan. Rapat membahas kelanjutan dari pembangunan Jembatan ATJ. Hasil rapat memutuskan tidak akan melanjutkan pembangunan jembatan ATJ yang ada saat ini.
Jembatan akan dibangun baru. Rencananya, pembangunan Jembatan ATJ dilakukan di sebelah ilir jembatan yang ada saat ini. Pemkab Kutai Barat yang merencanakan, tapi pembangunannya dilakukan langsung pemerintah pusat. Proyek jembatan baru ini ditargetkan pada 2024 ini masuk tahap perencanaan.
"Kita yang merencanakan pembangunan. Namun, untuk pembangunan fisiknya langsung dilakukan pusat. 2024 sudah masuk perencanaan itu dan fisiknya mereka," pungkasnya.
Rencana pembangunan jembatan baru pengganti jembatan ATJ yang belum selesai dibangun, akankah berdiri jembatan ATJ yang baru yang menghubungkan Melak-MMB? Ataukah kembali terjadi pembangunannya terhenti saat berganti pemimpin daerah?
Akankah jembatan dibangun untuk memenuhi kebutuhan bukan kepentingan? Layak kita tunggu mengingat adanya miliaran uang rakyat yang terbuang sia-sia dalam proyek mangkrak tersebut.
Editor : Uways Alqadrie