Informasi tersebut disampaikan pejabat militer Israel pada Sabtu (21/3). Kepala Staf Militer Israel, Eyal Zamir, menyebut dua rudal dengan jangkauan hingga 4.000 kilometer telah ditembakkan, menandai eskalasi konflik yang kini meluas ke luar kawasan Timur Tengah.
Menurut Zamir, rudal tersebut bukan diarahkan ke Israel, melainkan menunjukkan kemampuan Iran menjangkau wilayah yang lebih jauh, termasuk sejumlah ibu kota Eropa seperti Berlin, Paris, dan Roma.
Serangan ini terjadi di tengah memanasnya konflik sejak akhir Februari, ketika Amerika Serikat dan Israel menggencarkan operasi militer terhadap Iran. Hingga kini, korban tewas di Iran dilaporkan mencapai lebih dari 2.000 orang, sementara di Israel sedikitnya 15 orang meninggal dunia akibat serangan balasan.
Pada Sabtu malam, Iran kembali meluncurkan rudal ke wilayah selatan Israel, menghantam kota Dimona dan Arad. Serangan tersebut menyebabkan puluhan warga luka-luka, termasuk anak-anak.
Pihak Garda Revolusi Iran mengklaim target mereka adalah fasilitas militer dan pusat keamanan.
Juru bicara militer Israel, Effie Defrin, mengakui sistem pertahanan udara tidak sepenuhnya berhasil mencegat serangan tersebut. Pemerintah Israel pun berjanji akan mengevaluasi kejadian itu.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyebut situasi saat ini sebagai momen sulit, namun menegaskan negaranya akan terus melanjutkan operasi militer di berbagai front.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump memberi sinyal kemungkinan pengurangan operasi militer. Ia menyatakan Washington hampir mencapai targetnya, meski tetap membuka opsi penyesuaian strategi di kawasan.
Konflik ini turut berdampak besar terhadap sektor energi global. Penutupan Selat Hormuz—jalur vital bagi sekitar 20 persen pasokan minyak dunia—memicu lonjakan harga energi, termasuk gas alam di Eropa yang melonjak hingga 35 persen dalam sepekan terakhir.
Situasi tersebut membuat banyak negara mulai mencari alternatif pasokan energi, sementara sebagian lainnya berupaya melakukan negosiasi dengan Iran agar jalur pelayaran tetap bisa dilalui secara terbatas.
Ketegangan yang terus meningkat ini memicu kekhawatiran konflik akan meluas, sekaligus menekan stabilitas ekonomi global di tengah ketidakpastian geopolitik yang kian dalam.
Bantahan Pihak Iran
Pemerintah Iran membantah keras tudingan peluncuran rudal balistik jarak menengah sejauh 4.000 kilometer ke pangkalan militer gabungan Amerika Serikat dan Inggris di Diego Garcia.
Bantahan tersebut disampaikan pejabat senior Iran kepada media internasional, menyusul laporan yang menyebut dua rudal Iran ditembakkan ke wilayah Samudra Hindia. Teheran menegaskan tidak ada serangan semacam itu yang dilakukan pihaknya.
Sebelumnya, laporan The Wall Street Journal mengungkap dugaan peluncuran dua rudal balistik menuju Diego Garcia. Dalam laporan itu disebutkan satu rudal gagal saat masih di udara, sementara satu lainnya berhasil dicegat oleh kapal perang milik Amerika Serikat.
Pangkalan Diego Garcia sendiri merupakan fasilitas strategis milik Inggris yang digunakan bersama oleh militer AS dalam operasi di kawasan Timur Tengah. Lokasinya berada sekitar 4.000 kilometer dari wilayah Iran.
Jika benar peluncuran tersebut terjadi, maka itu akan menjadi indikasi kemampuan baru Iran dalam teknologi rudal jarak jauh. Pasalnya, selama ini Teheran melalui Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menyebut jangkauan maksimum rudal negaranya berada di kisaran 2.000 kilometer.
Isu ini pun memicu perhatian dunia internasional, lantaran jangkauan hingga 4.000 kilometer dinilai mampu mencapai sebagian wilayah Eropa Barat dan berpotensi meningkatkan ketegangan dengan negara-negara NATO.
Meski demikian, sejumlah analis menilai kabar peluncuran rudal tersebut belum tentu berdampak signifikan terhadap jalannya konflik yang tengah berlangsung di kawasan.
Namun, dinamika informasi yang saling bertentangan dari berbagai pihak menambah ketidakpastian situasi geopolitik global.
Editor : Uways Alqadrie