KALTIMPOST.ID-Jika melihat data dari Badan Pusat Statistik (BPS) PPU terlihat jelas terjadinya alih fungsi lahan pertanian padi di Sepaku. Di mana tren luas panen padi di kecamatan itu dalam 10 tahun terakhir mengalami penyusutan.
Di mana pada 2006 luas panen padi ladang seluas 329 hektare dan padi sawah 1.379 hektare. Angka itu pernah tumbuh signifikan tahun 2010, di mana padi ladang seluas 1.212 hektare dan padi sawah 1.357 hektare.
Setahun kemudian luasan padi ladang mengalami penurunan menjadi 349 hektare. Namun justru padi sawah yang meningkat menjadi 2.033 hektare.
Tahun 214 luasan padi ladang mengalami peningkatan menjadi 940 hektare dan padi sawah seluas 1.411 hektare.
Pada 2018 meluas menjadi 1.124 hektare untuk padi ladang dan 1.732 hektare untuk padi sawah. Namun tahun 2020, luasan itu mengalami penyusutan menjadi 405 hektare untuk padi ladang dan 1.231 hektare padi sawah.
Baca Juga: Kaltim Post Gelar Journalism Boot Camp 2026, Bekali Peserta Skill Jurnalistik dan Media Digital
Pada 2013, Sepaku pernah menyumbang hampir separuh produksi padi ladang di PPU yakni 49,56 persen dari total kabupaten. Sepaku jadi salah satu daerah lumbung padi ladang terbesar di PPU.
Namun di tahun yang sama, wajah pertanian PPU sesungguhnya sudah lebih banyak berbicara tentang sawit ketimbang padi.
Kelapa sawit telah menguasai 73,79 persen seluruh lahan perkebunan kabupaten, hampir 48.669 hektare, dengan produksi mencapai 367.266 ton pada 2013.
Enam tahun kemudian, di Kecamatan Sepaku saja, sawit menghampar lebih dari 7.800 hektare. Sementara pada tahun yang sama, pada 2019, ketika Presiden Joko Widodo resmi mengumumkan lokasi IKN, luas tanam padi ladang di Sepaku hanya tersisa 240 hektare. (rd)
Editor : Romdani.