KALTIMPOST.ID, Harga perak dunia kembali mencuri perhatian investor di awal 2026.
Setelah melonjak lebih dari dua kali lipat sepanjang 2025, logam mulia ini justru menunjukkan pergerakan ekstrem, naik cepat, lalu turun tajam hanya dalam hitungan hari.
Namun, yang menarik, gejolak ini bukan disebabkan oleh kelangkaan perak secara global.
Lalu, apa yang sebenarnya membuat harga perak begitu “liar”? Menurut analisis Goldman Sachs, dunia tidak kehabisan perak.
Stok global masih ada. Masalahnya, perak-perak tersebut tidak berada di tempat yang “dibutuhkan pasar”.
Baca Juga: Harga Emas Pegadaian Hari Ini, 9 Januari: UBS dan Galeri 24 Tak Lagi di Puncak
London, yang menjadi pusat penentuan harga perak dunia kini mengalami kekosongan stok. Sebaliknya, perak justru menumpuk di brankas Amerika Serikat, terutama di New York.
Perpindahan besar-besaran ini terjadi sejak tahun lalu, dipicu oleh kekhawatiran kebijakan tarif perdagangan AS.
Investor memilih untuk mengamankan perak mereka di AS, meski belum ada kepastian aturan baru. Akibatnya, pasar global menjadi pincang.
Kenapa Harga Bisa Naik dan Turun Ekstrem?
Saat stok perak di London menipis, sedikit saja pembelian bisa langsung mendorong harga melonjak tajam.
Investor yang masuk berebut sisa logam fisik, membuat reli terjadi lebih cepat dari biasanya.
Namun ketika pasokan terasa agak longgar, harga bisa langsung jatuh tajam. Goldman Sachs mencatat, dalam kondisi normal, permintaan 1.000 ton per minggu harga bisa naik sekitar 2%
Tetapi sekarang, dampak yang sama bisa mendorong harga hingga 7%. Artinya, pasar perak saat ini sangat sensitif, bahkan terhadap pergerakan kecil.
Baca Juga: Harga Emas Antam Kamis 8 Januari 2026 Masih Bertahan di Rp 2,584 Juta per Gram, Ini Rinciannya
Investor Masih Masuk, Meski Harga Sudah Tinggi
Menariknya, minat investor terhadap perak belum surut. Beberapa faktor yang masih menopang permintaan, antara lain harapan penurunan suku bunga The Fed, pencarian aset lindung nilai, dan upaya diversifikasi investasi
Kepemilikan perak melalui ETF (produk investasi yang didukung perak fisik) bahkan masih di bawah puncak tahun 2021, membuka ruang kenaikan lebih lanjut.
Namun, kondisi pasar yang timpang membuat setiap aliran dana baru berpotensi menciptakan gejolak besar.
Baca Juga: Minat Gen Z Menabung Emas Menguat, Terjadi Hampir di Seluruh Daerah Tak Hanya Kota-Kota Besar
Risiko Baru dari China Mulai 2026
Ketidakpastian tidak berhenti di situ. Mulai 1 Januari 2026, China memberlakukan aturan baru, yaitu ekspor perak wajib izin resmi. Langkah ini dikhawatirkan, memecah pasar perak global, mengurangi likuiditas, dan memperbesar fluktuasi harga
Bagi investor, ini berarti risiko naik-turun harga semakin sulit ditebak.
Baca Juga: Pegadaian Catat Pergeseran Besar Perilaku Keuangan, Gen Z Dinilai Lebih Melek Investasi Emas
Apakah Perak Akan “Terjebak” di AS?
Goldman Sachs menilai perak bisa mengikuti jejak emas, yang hingga kini masih tersimpan di brankas COMEX New York, meski tarif emas sudah dipastikan tidak berlaku.
Jika ketidakpastian kebijakan terus berlanjut, perak kemungkinan tidak akan kembali ke London dalam waktu dekat. Kondisi ini berpotensi menjaga volatilitas tetap tinggi sepanjang 2026.
Jadi, harga perak yang bergejolak saat ini bukan pertanda krisis pasokan global, melainkan pasar yang terdistorsi oleh lokasi, kebijakan, dan arus investor.
Selama perak masih “tersangkut” di tempat yang salah, dan kebijakan global belum jelas, harga perak masih akan bergerak liar. ***
Editor : Dwi Puspitarini