Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Ekonom Sebut Ketegangan Global Bisa Tekan Rupiah Lebih Dalam, Ini Alasannya

Ulil Mu'Awanah • Selasa, 10 Februari 2026 | 05:00 WIB

Ekonom Universitas Mulawarman Purwadi Purwoharsojo.
Ekonom Universitas Mulawarman Purwadi Purwoharsojo.

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Ketidakpastian ekonomi global kembali menjadi sorotan menyusul meningkatnya konflik geopolitik dan rivalitas ekonomi antarnegara besar.

Kondisi tersebut dinilai berpotensi memberi tekanan serius terhadap stabilitas nilai tukar rupiah, terutama jika respons kebijakan domestik tidak cukup kuat untuk meredam gejolak eksternal.

Disampaikan Ekonom Universitas Mulawarman Purwadi Purwoharsojo menilai, situasi global saat ini menunjukkan kecenderungan negara-negara besar membangun blok ekonomi sendiri demi menjaga kepentingan nasional mereka.

Pola ini, menurutnya, membuat negara berkembang seperti Indonesia berada dalam posisi rentan jika terlalu bergantung pada dinamika eksternal.

Baca Juga: Minim Anggaran, Komisioner KPU PPU Pilih Jadi Pembina Upacara di Sekolah untuk Sosialisasi Pemilu

Ia menjelaskan bahwa konflik global tidak lagi sebatas perang terbuka, tetapi juga perang ekonomi yang berdampak langsung pada perdagangan, arus modal, dan nilai tukar.

“Ketika negara-negara besar mulai bersikap agresif dan protektif, negara berkembang harus ekstra hati-hati. Jangan sampai kita ikut terseret dan justru melemahkan fondasi ekonomi sendiri,” ucapnya.

Purwadi menekankan bahwa pelemahan rupiah bisa semakin dalam apabila fundamental ekonomi nasional tidak diperkuat. Ia mengingatkan bahwa tekanan terhadap mata uang sering kali dipicu oleh sentimen global, terutama ketika dolar menguat tajam akibat krisis atau konflik internasional.

Dalam kondisi tersebut, pemerintah dinilai perlu menjaga stabilitas kebijakan dan memperkuat koordinasi antarotoritas keuangan. Menurutnya, sinergi antara Bank Indonesia dan lembaga terkait harus benar-benar solid agar kebijakan moneter dan fiskal berjalan seirama.

Baca Juga: Program Jaksa Masuk Sekolah Edukasi Siswa SMK 6 Samarinda soal Hukum

“Kalau koordinasi kebijakan tidak satu napas, dampaknya bisa ke mana-mana. Kredit tetap mahal, daya beli tertekan, dan ekonomi domestik jadi sulit bergerak,” katanya.

Ia menambahkan, penguatan ekonomi dalam negeri menjadi kunci agar Indonesia tidak terlalu bergantung pada faktor eksternal.

Stabilitas rupiah, kata dia, bukan hanya soal nilai tukar, tetapi juga menyangkut kepercayaan pasar terhadap kemampuan negara mengelola ekonominya di tengah tekanan global yang semakin kompleks. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#rupiah #stabilisasi rupiah #kebijakan #Purwadi Purwoharsojo #Tekanan #ekonomi global #Ketidakpastian #ekonom